PROFIL

SAMBUTAN KEPALA DESA PADANGAN


PERBEKEL DESA PADANGAN
I Made Suamanta, SE

Om Swastiastu,
Melalui Kesempatan ini saya selaku Kepala Desa Padangan mengucapkan Puji Syukur Kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat KaruniaNya website desa Padangan yang beralamat di www.padangan.com dapat jadi tepat pada waktunya.
Adapun saya ucapkan terima kasih pula kepada adik-adik Mahasiswa/i  KKN PPM Periode V 2012 Universitas Udayana dibawah bimbingan Dr.Ir. Pande Ketut Diah Kencana, MS yang telah membantu pembuatan website www.padangan.com . 
Desa Padangan merupakan Desa yang aman dan damai. Dimana sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani dan ada juga mengembangkan peternakan , dan yang lainnya mengembangkan diri dibidang usaha jual beli, serta masih banyak potensi lain yg masih perlu dikembangkan.   Desa Padangan terkenal sebagai penghasil Berbagai hasil bumi seperti Kopi, coklat,durian, Manggis, dan lain sebagainya.
Semoga website yang dibuat ini dapat menjadi wadah atau media untuk publikasi berita terbaru mengenai Desa Padangan sehingga masyarakat di luar Desa Padangan mulai dari kecamatan Pupuan, Provinsi Bali, Indonesia, bahkan seluruh Dunia dapat mengenal lebih jauh mengenai Desa Padangan sehingga pada akhirnya dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Padangan.
Demikian sambutan ini kami sampaikan semoga nantinya dapat berguna bagi umum.
Akhir kata saya ucapkan terima Kasih.

Om Shanti Shanti Shanti Om.


Padangan, 9 Agustus 2012
Kepala Desa Padangan

I Made Suamanta,SE


KONDISI DAN LETAK GEOGRAFIS

Desa Padangan merupakan  salah satu dari 14 Desa  yang terdapat di Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan. Dilihat secara geografis Desa Padangan mempunyai batas – batas wilayah tertentu dengan desa – desa lain disekitarnya.
Batas – batas tersebut adalah sebagai berikut :

Ø   Di sebelah Utara         : Desa Batungsel
Ø   Di sebelah Timur         : Desa Sanda
Ø   Di sebelah Selatan       : Desa Kebon Padangan
Ø   Di sebelah Barat          : Desa Pujungan dan Pajahan

Desa Padangan terletak diketinggian ± 650 – 850 meter di atas permukaan laut. Ketinggian tersebut menjadikan desa Padangan memiliki  hawa yang sejuk dan juga mempengaruhi mata pencaharian penduduk nya. Dari luas Desa Padangan, sebagian besar wilayahnya merupakan tanah perkebunan dan tanah hutan.  Tingkat kesuburan tanah yang cukup baik dimanfaatkan oleh penduduk untuk lahan perkebunan dan pertanian. Lahan perkebunan sebagian besar ditanami coklat, kopi, manggis, durian, dan sebagian kecil lahan sawah. Selain mata pencaharian dari hasil kebun dan sawah, masyarakat Desa Padangan juga mengaandalkan hasilnya dari berternak, seperti sapi, kambing, ayam dan babi.  Dalam pembangunan desa Padangan dan upaya pengembangan potensi desa  tersebut tentu tidak lepas dari penduduk desa setempat. Jumlah penduduk yang besar tidak selalu memberikan pengaruh positif terhadap pembangunan apabila  tidak diimbangi dengan peningkatan sumber daya manusia (SDM) nya, tentu akan menjadi beban pembangunan.  Mata pencaharian pokok penduduk desa Padangan sebagian besar merupakan petani, buruh tani, maupun peternak, namun ada juga penduduk yang mata pencahariannya sebagai buruh atau swasta, pegawai negeri, pengrajin, pedagang, montir maupun dokter.
Desa Padangan merupakan Desa yang terletak di Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Desa ini merupakan Pemekaran dari Desa Batungsel pada tahun 2003. Desa Padangan terdiri atas 5 Buah Dusun/Banjar yaitu Padangan Kaja, Kangin, Kawan, Kelod, dan Dauh Tukad.

Desa ini merupakan desa yang kaya akan hasil alam, seperti manggis, durian, cengkeh, dan terutama kopi. Hampir keseluruhan penduduk Desa Padangan merupakan Petani dan hampir sebagian besar kebun di Desa Padangan merupakan kebun kopi.

LAMBANG DESA 




1.  Segi Lima                          :  Pancasila sebagai Dasar Negara
2.  Bintang                              :  Tuhan Yang Maha Esa
3.  Gunung                              :  Letak Desa padangan di kaki Gunung Batukaru
4.  Candi Bentar                      :  Berwawasan Budaya Hindu
5.  Rantai                                 :  Persatuan dan Kesatuan
6.  Padi dan Kapas                  :  Kemakmuran dan kesejahteraan sosial
7.  Empat Tangga                    :  Desa Padangan terdiri dari lima Banjar Dinas
8.  Apti Dharma Kerta Locita  :  Melalui Musyawarah Mufakat untuk mencapai
                                                   Keputusan dan Kebenaran .

Arti keseluruhan Lambang Desa Padangan adalah Desa Padangan yang seratus persen menganut Agama Hindu dengan latar belakang seni dan Budaya yang kuat dengan Lima  Banjar Dinas dan Banjar Adat sebagai pendukungnya dengan menganut Idiologi Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia tanpa mengabaikan musyawarah mufakat dalam mengambil suatu Keputusan.


SEJARAH DESA PADANGAN

Sejarah Berdirinya Desa Padangan
Pada zaman dahulu, leluhur penduduk desa Padangan berdiam di Batur, abian. Batur Cempaka, setelah lama kelamaan mereka pindah dari Batur, di sekitaran pura Kedaton. Lalu mereka di serang oleh semut lalu mereka pindah ke utara dari tempat awal mereka berdiam dan mereka membentengi tempat mereka berdiam dengan membuat blumbang desa dan membuat batas-batas desa. Blumbang desa bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia berarti, lubang-lubang desa. Desa dikelilingi oleh lubang-lubang agar tidak terganggu dari serangan binatang-binatang buas karena pada zaman dahulu mereka masih hidup diantara binatang-binatang buas seperti macan dll.
Setelah cukup lama berdiam, lalu leluhur warga desa Padangan pindah ke daerah tegal dawa. Tegal dawa adalah tempat atau wilayah yang saat ini didiami oleh masyarakat desa padangan saat ini. Setelah itu masyarakat menata kembali sebagaimana mestinya sebuah wilayah desa/tempat tinggal, lalu datanglah berbagai pendatang baru dari berbagai warga atau wangsa-wangsa dari Bali.
Karena pada saat itu desa ini dikuasai oleh Pasek Padangan, siapapun yang masuk ke desa ini tidak boleh menjadi seorang Dewa, Brahmana, Gusti dll (artinya tidak boleh ada perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat atau menunjukan gelar dan kedudukan). Mungkin juga ini yang membuat nama desa ini menjadi Padangan, berasal dari kata Pada yang berarti sama atau tidak ada yang membedakan. Pasek sendiri berasal dari bahasa kawi yaitu, Pacek yang berarti Pemimpin atau pejabat suatu wilayah. Pasek Padangan sendiri diberi penganugrahan oleh Raja Tabanan Arya Kenceng.

Sejarah Nama Padangan
Selain itu, kata Padangan sendiri bisa berasal dari kata Padang atau bahasa lainnya adalah Galang yang bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia berarti Terang, karena pada zaman dahulu ada cahaya diantara hutan belantara yang gelap-gulita (atau karena ada cahaya kesucian dari leluhur). Padangan  juga bisa berasal dari kata dalam bahasa Kawinya Papedangan atau Pedangan yang bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia berarti dapur.
Berawal dari berdiamnya seorang betara yg berada di pucak gunung Batukaru yang memiliki 4 orang anak yang salah satunya ditempatkan di Pura Makori yang sekarang letaknya berada di desa Belimbing dan salah satu yang lain diletakan di sebidang tanah yang beralaskan selaka/paras putih. Kemudian karena putranya mengambil istri di pucak genah lalu dibawa ke suatu tempat yang saat ini bernama Padangan dan beliau memiliki anak, lalu anaknya ditempatkan di desa Kebon Padangan. Sebelumnya, karena menurut cerita masyarakat, bahwa istri dari anak betara yang berdiam di desa ini mengalamai kecacatan pada salah satu tangan di jarinya, ia tidak lagi boleh tinggal dan bertempat di pura Kedaton atau di pucak lalu istrinya tersebut diletakan di tempat paling bawah, yaitu pura Nampusela yang konon karena itu semua warga desa padangan yang berjenis kelamin perempuan tidak boleh masuk ke pura itu hingga saat ini.
Setelah sekian lama tinggal, leluhur masyarakat desa Padangan lalu diserang semut, lalu leluhur itu pindah ketempat yang saat ini di tempati ini (di tempati oleh warga desa saat ini) dan ditata mulai dari periangannya, pusehnya, dan puseh pemujaan Wisnu dipindah ke desa yang sekarang yang tadinya berada di luar desa. Di desa ini pula ada pura Kedaton yang dibangun pada tahun 1218 dan di tempat itu juga memiliki warisan yang berupa prasasti yang diletakan di Pura Kedaton. Prasati ini merupakan salah satu benda sakral dan benda sejarah yang ada di desa Padangan sebagai bukti bahwa memang desa Padangan sudah ada sejak lama dan merupakan salah satu desa tua di kecamatan Pupuan. Selain itu, ada juga peninggalan lain yang berupa Slonding yang diciptakan sekitar zaman Syailendra yang hanya ada satu-satunya di Tabanan dan hanya ada dua buah di provinsi Bali yang salah satunya berada di Tenganan Pegringsing Karangasem. Slonding adalah alat musik seperti gamelan yang hanya memiliki empat bilah daun. Alat musik ini untuk keperluan seni budaya.
Secara kekerabatan, desa Kebon Padangan masih memiliki garis keturunan dengan leluhur desa Padangan, karena Pasek Padangan ikut pindah ke Kebon, tetapi karena betara tidak memberi ijin tinggal di Kebon dengan tidak memberi keturunan. Setelah dia berbakti di Kdaton agar punya keturunan, akhirnya dapatlah Pasek Padangan keturunan dengan syarat tetap tinggal di Padangan tetapi keluarganya tetap di Kebon Padangan.

4 komentar:

  1. sudah 17 tahun hidup di Padangan baru tahu sejarah Padangan yg sbenarnya (y) like this

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. andre : kije gen ci selama ne yan? party sex gen ci o? PK ci nok

    BalasHapus